Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Anugrah atau Musibah - Round 2

Sebelumnya saya pernah buat postingan yang sama tentang hal ini, Anugrah atau Musibah. Tulisan sebelumnya berisi tentang keresahan saya dengan diri saya sendiri. Kekhawatiran saya dengan diri sendiri. Untuk kali ini saya mendapatkan kegelisahan yang sama namun dalam situasi lain.

Sampai sekarang saya gak bisa jawab jika ditanya "Kenapa kuliah Mekatronika?". Jujur aja, saat daftar kuliah dan tes masuk saya juga gak punya pemikiran pasti kenapa saya mau kuliah itu. Bukan berarti saya gak punya pendirian. Saya orang yang selalu menemukan sesuatu alasan dibalik setiap peristiwa belakangan. Gampangnya menemukan jawaban ditengah jalan atau di akhir bukan di awal perjalanan. Begitu saya mulai mendapatkan baju praktikum dan jas almamater. Secara resmi juga saya mulai memasuki kehidupan mahasiswa Mekatronika.

Petualangan pun dimulai.

Sensasi dari kuliah mekatronika gak jauh beda dengan kuliah jutusan teknik pada umumnya. Ada namanya Laporan. Kuliah praktikum terus-terusan sampai kelas penuh dengan batang. Namun ada ekstranya yaitu kalian akan bingung ketika ditanya orang Apa itu mekatronika? Jika Ekonomi, Psikologi dan Informatika orang pasti tahu. Lah ini mekatronika, waktu saya SMA temen-temen mana ada yang tahu, apalagi guru saya. Mereka tahu mekatronika ya ketika saya kuliah mekatronika.

Seperti orang pada umumnya ketika pertama kali mencoba/belajar hal baru pasti dalam kondisi on fire. Begitu juga saya yang saat itu masih semangat banget ngikutin perkuliahan. Semangat dicampur dengan keasyikan karena mata kuliah masih nyantai-nyantai. Belum banyak praktikum serta ujian praktikum yang harus keluar duit karena bikin papan PCB berserta jalurnya dan komponen elektronika. Masih santailah saat itu. Beban tugas juga gak banyak - banyak amat.

Sayangnya, begitu masuk semester yang jadwal kuliah mayoritas praktikum. Secara tidak langsung sudah mengubah hidup saya. Dalam satu semester itu pulang paling cepet itu jam 14.30. Dengan catatan ruang praktikum udah bersih dan dosen udah bingung ngasih materi apa lagi. Itu yang paling cepet. Sialnya itu bisa sampai jam 16.00 bahkan kalo kuliahnya banyak bisa pulang jam 17.00. Intinya ya jam kuliah udah di setting seperti jam kerja pegawai. Masuk pagi pulang sore. Jika telat disuruh nutup pintu kelas dari luar. Jika tugas udah selesai sebelum waktunya, siap-siap nganggur di dalam kelas sampai dosen datang dengan absensi dan pulanglah kita.


Kebetulan semester kemarin adalah semsester dimana emosi saya terkuras habis. Sehingga ada masa dimana saya jenuh masuk kuliah. Ketika selesai kuliah saya sering ngedumel sendiri.

"Jenuh kuliah. Tiap hari kuliah kerjaannya masang ini masang itu, bikin ini bikin itu. Kaya gak ada kerjaan lain aja"

Gak tau apa yang mempengaruhi saya sampe bisa mikir kaya gitu. Saya juga gak tau apa temen-temen yang lain juga ngerasain hal yang sama atau nggak. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Dateng kuliah yang dipikirin cuma Kapan Istirahat? Kapan pulang biar bisa tidur dan melupakan semua yang terjadi pada diri ini. Lebay banget ya. Itulah yang saya rasain selama kuliah semester kemarin. Kejenuhan juga merambat ke semua mata kuliah. Dimana hal itu menyebabkan nilai kuliah banyak yang kurang. Gak tau nasibnya gimana semester besok masih bisa ambil SKS atau enggak. Saya gak mau mikirin soal itu ntar liburan cuma mikirin sesuatu yang belum jelas titik terangnya.

Jika sedang dalam suasana dimana sosok dalam diri saya keluar dari tubuh saya. Saya sering bertanya "Salah gak sih masuk Mekatronika?" Ketika saya berusaha mencari jawaban itu selalu aja gak ketemu bagaikan kesasar dalam hutan disaat matahari terbenam. Gelap. Gak ada apa-apa. Nihil.

Disisi lain saya menemukan hal yang gak pernah saya pikirkan sewaktu memutuskan kuliah mekatronika yaitu saya tahu rasanya dunia kerja karena jam kuliah disesuaikan dengan jam kerja kantoran. Dalam situasi yang gak nyaman saya nemuin kepingan diri sendiri yang hilang entah diambil orang atau tergeletak di jalanan.Saya pun juga dibuat untuk gak hidup santai karena berbagai tuntutan untuk esok hari, dan tentu saja postingan ini gak bisa dibuat kalau saya gak kuliah mekatronika. Intinya semua yang kita lakukan ada hitam ada putih. Ada satu ada nol. Ada gelap ada terang dan tentu saja ada anugrah dan musibah.

Selasa, 07 Juli 2015

Dear Haters

Malam hari sebelum tidur, biasanya saya iseng-iseng browsing internet. Entah asal googling, liat-liat video di Youtube atau jadi silent reader di Kaskus. Saat itu kebetulan saya lagi asik liat-liat video di Youtube dan gak sengaja nemuin Vlog Bayu Skak. Bagi yang gak tau Bayu Skak itu salah satu Youtubers Indonesia yang terkenal dengan logas jawa timuran. Cari sendiri aja di Youtube, pasti ada kok. Padahal saya sendiri gak ngikutin video-video bikinan Bayu Skak. Entak kenapa saya tiba-tiba pengen liat Videonya yang berjudul "Haters gonna Hate". Postingan ini adalah hasil dari apa yang saya liat dari Videonya Bayu Skak.

Sejatinya apa yang kita lakukan pasti ada yang suka dan ada yang enggak. Itu alamiah. Semua orang ngerasain, termasuk juga saya. 

Saya mulai merasa memiliki Haters itu ketika SMA. Pas itu ada anak kelas lain yang gak suka sama saya. Itu aja, gak ada sesuatu yang spesial. Begitu mulai kuliah pun juga sama. Ada yang gak suka sama saya walaupun saya dikampus gak banyak bikin sensasi, masuk dalam jajaran Mahasiswa dengan IPK diatas 3,0 atau pacaran sama idola kampus. Walau udah pernah ngerasain punya Haters namun yang satu ini rasanya nampol banget. Itu gak jauh beda ketika di hook Pudge dari hutan. 

SAKIT GILA COY!!

Semester kemarin adalah hal yang baru bagi saya karena jadwal kuliah di dominasi oleh kuliah praktikum. Jadi pulang kuliah bisa jam 4 walau jadwal pulang jam 3 sore. Ditambah lagi waktu daftar kuliah dengan ijazah SMA, yang notabene belajarnya lebih banyak menggunakan buku, alat tulis dan internet dalam kelas daripada belajar dalam bengkel, lapangan atau laboratorium. Untuk lulusan SMA yang biasa nukang atau pola pikir mereka praktis pasti gampang. Sedangkan saya yang pola pikir teoritis, seneng bayangin konsep abstrak dan sering nyantai saat SMA yang tiba-tiba harus belajar yang saya sendiri gak tau asal-usulnya darimana? Alasannya apa? Mengapa harus belajar ini? Pokoknya kayak militerlah. Suka gak suka harus nurut perintah komandan walau perintahnya gak masuk akal. Di militer, kita diajarin disiplin dan siap sedia dalam situasi apapun, termasuk siap dengan perintah komandan dan kalian gak bisa protes.

"Prajurit! cepat kamu tembak orang itu."

"Tapi pak? tapi.."

"Itu PERINTAAHHH!"

Balik ke The Haters. Karena banyaknya kuliah praktikum ditambah saya bukan orang yang cepat beradaptasi maka Haters ini mulai bermunculan sedikit demi sedikit. Terlintas dipikiran saya, Umumnya orang menjadi Haters karena dia merasa tersaingi oleh orang lain atau dia gak punya sesuatu yang dimiliki orang lain. They hate us because they ain't us. Definisi itu yang saya yakini seseorang menjadi haters. Sayangnya, saya gak termasuk keduanya. Nah bingung kan? Saya aja bingung, tapi kok tetep aja pada gak suka. Pengen banget saya ngomong sama haters saya.

"Kalian jadi hatersku? Percuma coy. Sekarang gak ada yang bisa dibanggain. Cari tuh orang yang terkenal, idola kelas, pacarnya kaya indomaret dimana-mana ada kalo perlu artis tuh yang sering nongol di TV."

Gak enak dikuping tapi itu benar adanya. Sekarang gini deh, perhatiin orang sekitar kalian yang gak suka sama seseorang. Perhatikan meraka, apa yang membuat meraka gak suka? Pastikan ada sesuatu yang membuat mereka gak suka kan. Entah ada yang pamer diri sendiri lagi liburan di Instagram, posting tiket bioskop sama pacar di Twitter bahkan yang sampai punya followers ribuan pun juga kena semprot. Jangan-jangan kalian salah satu dari meraka.

Dan yang menjadi sasaran para Haters pasti orang yang bisa dibilang punya sesuatu yang gak dimiliki oleh pelaku. Contoh yang paling gampang ya para selebriti itu. Kadang di TV atau di Instagram sering pamerin rumah atau apapun yang mereka miliki. Disaat bersamaan pula ada juga yang langsung komentar macem-macem. Ada yang bilang aji mumpunglah. Pesugihanlah. Simpenan pejabatlah. Pokoknya semua yang memakai imbuhan-lah masuk. Saya suka menjelajah akun orang lain, entah instagram, facebook atau apapun yang bisa dijelajahi. Saya yakin, pasti ada satu atau dua orang yang seneng ngasih komentar negatif. Yang jadi pertanyaan saya adalah Udah gak suka tapi masih aja follow? Mau ngikutin sampe kapan? Sampe dia dipanggil Yang Maha Kuasa. Jika kalian ngelakuin itu sama aja kalian itu peduli. Gimana gak peduli, ngelakuin apa aja dikomentarin bahkan sampai tahu nama pacar, nama temen, nama tukang ojek langganannya. Semuanya tahu melebihi orang tuanya sendiri.

Sebelum pergi, Saya cuma nitip pesen aja.
  • Buat Tersangka
Sebelum kalian membenci seseorang. Pikir-pikir dulu deh, kenapa kalian gak suka sama orang itu? Apa alasannya? Jangan sampai saat ditanya kalian gak bisa jawab. Semua itu pasti ada alasannya. Ada yang langsung diketahui dan ada yang tidak. Inget, jika kalian membenci seseorang sama aja kalian perhatian sama orang itu. Peduli sama orang itu. Kalian bukan Feni Rose. kalian gak dibayar buat ngegosipin orang. Ngapain capek-capek ngomongin orang, gak dibayar lagi.
  • Buat Korban
Dimanapun, kapanpun kalian berada pasti ada yang gak suka sama kalian. Mereka berusaha bikin kalian jatuh dan nyerah ditengah jalan. Berbahagialah kalian karena masih ada yang ngasih perhatian kalian selain orang tua kalian. Jarang lho ada orang yang perhatian sama kalian cuma-cuma. Ngurusin kalian cuma-cuma. Gratis lagi. Babysitter aja dibayar buat ngurusin orang. Lain kali, pas kalian ketemu sama haters kalian ucapin terima kasih udah perhatian dengan seksama jangan lupa kasih oleh-oleh yaitu pencapaian kalian sendiri.

Sabtu, 14 Februari 2015

Perlukah Valentine?

Setiap tanggal 14 Februari, apa yang ada dipikiran orang-orang? Tidak lain tidak bukan adalah hari kasih sayang atau yang bisa disebut Hari Valentine. Hari yang sudah ditandai oleh dunia sebagai hari kasih sayang, dimana coklat, bunga dan ornamen berbentuk hati atau dekorasi berwarna pink. Jika kita lihat sendiri di perkotaan. Banyak tempat menawarkan berbagai hadiah atau paket Valentine. Misalkan potongan harga untuk sepasang kekasih, diskon Coklat dimana-mana, sampai-sampai ada paket Boneka, coklat serta kartu ucapan yang bisa sampai ratusan ribu rupiah. Semuanya yang merayakan itu didominasi oleh sepasang kekasih. Yang lebih ngenes lagi nih, ada yang bela-belain malakin temennya untuk ngasih dia coklat/bunga. Logikanya sederhana. Karena gak punya pasangan buat Valentine maka dia nyari orang yang bisa dipalakin coklat/bunga. Setelah itu pamer ke temennya biar gak dibilang jomblo atau dibully karena gak ikut ngerayain. 

Sayangnya, tanpa kita sadari. Saat ikutan Valentine, kita hanya ikut-ikutan temen tanpa tau asal usul Valentine itu sendiri atau memang tau Sejarah Valentine itu sendiri. Jika kita mencari di google. Pada tanggal 14 Februari tidak hanya memperingati hari kasih sayang tapi juga memperingati Hari Santo Valentinus. Dalam ajaran katolik (kebetulan saya juga katolik) pada hari tertentu ada hari dimana kita memperingati para misionaris yang sudah meninggal namun karena karya mereka akhirnya oleh Paus dinobatkan sebagai Santo (untuk laki-laki) dan Santa (untuk perempuan). Dari situ nama para Santo-Santa inilah menjadi nama permandian/baptis bagi umat katolik, namun tidak dipungkiri orang protestan juga melakukan hal yang serupa. Dari sini saya tau pasti ada yang bertanya "Kalau begitu kaum non-kristiani gak boleh ikut merayakan dong?" Saya akan jelaskan.

Dilihat dari sejarah Santo Valentinus sendiri. Sebenarnya itu mengacu pada dua nama yaitu Santo Valentinus dari Roma dan Santo Valentinus dari Terni. Gak tau mana yang benar tapi mereka berdua mempunyai kesamaan kisah. Pada tahun 269, dimana saat itu Kerajaan Roma sedang perang. Karena itu Kaisar Klaudius buat kebijakan bahwa tidak boleh ada pernikahan selama perang. Akibatnya para laki-laki ditarik keluar untuk perang. Melihat kejadian itu, Santo Valentinus akhrinya menikahkan sepasang kekasih secara sembunyi-sembunyi. Sayangnya hal itu diketahui oleh kaisar dan Santo Valentinus di pernjara, disiksa dan dihukum mati. Itu sejarah singkatnya.
Kita lihat dari sini lainnya, Valentine itu hanyalah budaya yang berasal dari barat. Dimana pada saat itu perayaan Valentine dimulai dari tukeran kartu ucapan. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya sekedar tukeran kartu ucapan, mulailah dari situ ditambah coklat, bunga sampai pada boneka. Disana perayaan Valentine tidak hanya untuk sepasang kekasih. Disana laki-laki bisa mengucapkan Valentine kepada teman wanita atau teman laki-lakinya, begitu juga sebaliknya. Itu sah-sah aja karena penduduknya terbuka dengan hal apapun bahkan hubungan sejenispun gak masalah. Selain itu, Valenting juga dikaitkan dengan persembahan untuk Dewi cinta di Yunani dan Roma.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, "Apakah kaum non-kristiani gak boleh ikutan ngerayain?". Jika kalian tanya pada saya. Jawaban saya adalah "Silahkan saja." Mengapa? Karena bagi saya sendiri Valentine adalah budaya dimana orang saling berbagi kasih satu sama lain. Sama halnya dengan perayaan Sekaten di Jogja. Apakah orang dari luar Joga boleh ikutan sekaten? Ya silahkan saja. Permasalahan yang dianut kaum non-kristiani. Maaf kalau saya mengacu pada kaum muslim. Bukannya saya ingin memprovokasi atau menjatuhkan, tetapi di media sosial banyak yang menyatakan bahwa kaum muslim menolah Valentine.


Sebelum membuat artikel ini, saya berusaha mencari tahu mengapa mereka menolak Valentine. Dari hasil pencarian saya. Pada dasarnya dalam ajaran muslim, mereka juga diajarkan untuk mengasihi sesama manusia, bahkan pada mahluk hidup lainnya sekalipun. Yang menjadikan mereka menolak Valentine karena asal usul Valentine itu sendiri. Mereka menyakini bahwa merayakan Valentine sama halnya dengan Taqlid yaitu mengikuti kepercayaan non-muslim. Karena Valentine bukanlah ajaran dari Islam dan bukan budaya Islam.

Dari sini saya hanya ingin menyampaikan. Perlukah ikutan ngerayain Valentine? Silahkan saja selama kalian melakukannya dengan tata cara/adat istiadat setempat. Toh Tuhan tidak melarang umatnya untuk berbagi.

Kamis, 15 Januari 2015

Anugrah atau Musibah

Anugrah atau Musibah. Kata ini yang terus membuat saya bertanya-tanya tentang diri saya sendiri. Saya akui, saya berkepribadian introvert dan orang introvert selalu mempunyai pertanyaan sendiri dalam kepala mereka. Bisa juga disebut mereka memiliki dunianya sendiri. Dimana dunianya tidak banyak orang yang mengetahui apa yang mereka pikirkan? Mengapa bisa memikirkan hal tersebut selama berjam-jam? Itulah pertanyaan yang selalu terlontar ketika orang lain melihat mereka.

Ketika mengetahui bahwa diri saya sendiri adalah introvert, semua kegelisahan yang saya rasakan sedikit demi sedikit mulai terpecahkan. Sebelumnya saya selalu bertanya dengan diri sendiri "Apa yang salah dalam diri saya?" Karena saat melihat teman-teman saya, saya iri dengan mereka. Kenapa mereka bisa digandrungi banyak orang khususnya lawan jenis? Kenapa mereka mudah sekali melakukan percakapan tanpa terputus sampai orang lain sangat menantikan sososk dia yang mampu mencairkan suasana? Dengan kata lain gak ada dia gak rame. Hal itu menganggu saya saat berada dikelas atau dalam kegiatan apapun. Saya sering memperhatikan teman saya yang dengan luwesnya berbicara spontan dan menjadi bintang kelas. Belum lagi dikampus ada orang yang begitu populernya sampai-sampai semua orang selalu menemuinya dan mengandalkan dia dalam pembentukan kegiatan kampus. Saat pemilihan pengurus BEM juga saya ikut karena dari kelas gak ada perwakilan sama sekali bukan karena ingin berorganisasi atau ingin populer dikalangan kampus. Apalagi dalam pergaulan, di kampus, saya hanya kenal dan dekat dengan teman-teman satu prodi. Untuk prodi lain saya hanya sebatas tau nama mereka dan hal-hal tentang mereka dari orang lain. Bisa asal SMA, pacarnya siapa atau dia senengnya nongkrong dimana. Yah seperti itulah.

Hal lain bikin saya iri adalah "Kenapa mereka dengan gampangnya mengaet lawan jenis? Apa yang menjadi daya tarik mereka? " Kok bisa sih mereka mendekati lawan jenis tanpa halangan. Padahal saya juga pengen bisa mengaet lawan jenis tapi apa daya saya aja takut sama cewek (cewek disini selain keluarga). Bingung juga kenapa bisa seperti itu. Ketika mau mulai percakapan otak saya mulai menyusun pertanyaan apa yang mau dilontarkan. Takutnya pertanyaan saya membuat dia ilfeel atau membuat saya di mata dia orang yang tidak menyenangkan. Amsyongkan kalo gitu. Udah jatuh tertimpa tangga. Matian-matian deketin tapi gara-gara gak bisa membuka percakapan jadinya berantakan. Masalahnya adalah lingkungan tempat saya memaksa untuk cowok yang mulai duluan dan cewek maunya terima jadi. Buat orang Ekstrovert hal itu gak masalah tapi buat saya itu bisa jadi penderitaan karena harus melawan rasa tidak nyaman berbicara dengan orang. Membuat orang lain nyaman dengan saya. Memang ada juga cewek yang mulai pendekatan duluan tapi tetep aja banyak tuntutan cowok yang harus mulai duluan. Entah itu budaya dari jaman dulu atau karena hal lain saya gak tau. Yang paling pahit adalah ketika naksir sama cewek tapi keburu disambet orang karena dia jago cuap-cuap dan sering ngajakin nongkrong.

Setiap hal pasti ada sisi positif dan negatinya. Saya sendiri percaya itu dan sudah menemukan serta membuktikan apa hal positif yang bisa diambil. Banyak teman saya cerita tentang hal-hal yang saya anggap dalam ranah pribadinya. Entah mereka sudah menceritakan hal ini ke orang lain atau belum paling tidak saya menjadi salah satu orang yang tahu tentang kehidupan pribadinya sampai keluarganya. Padahal saya dengan mereka bisa dibilang gak deket banget. Nongkrong bareng aja nggak pernah. 

Salah satunya adalah Intan, dia cerita tentang keluarganya. Padahal saya kenal dia belum ada setahun, satu semester aja belum. Saya kenal dia waktu gabung di organisasi anak muda di gereja. Bisa dibilang dia masih baru disitu. Belum banyak orang yang dia kenal dan belum banyak orang yang dia ajak ngobrol atau sebaliknya. Kita ngobrol bareng aja jarang, lewat BBM juga belum pernah. Saya gak tau apakah dia tipikal orang outgoing mudah terbuka dengan siapapun atau seperti saya yang pelit berbagi tentang diri sendiri. Yang buat saya kaget kenapa dia bisa cerita hal itu sama saya? Entah udah ada temennya yang tahu soal keluarganya atau gak semua temennya diceritain. Padahal cerita tentang keluarga sendiri gak semua orang mau gitu aja. Bahkan yang udah temenan lama aja belum tentu tahu keluarga satu sama lain apa lagi saya belum lama kenal Intan. Memang gak semua tentang keluarganya dia ceritakan tapi paling tidak saya mengetahui garis besar keluarga dia seperti apa. Dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa saya tipikal yang bisa dipercaya menurut dia. Walau belum tentu benar paling tidak ketika seseorang sudah bicara tentang ranah privasinya, salah satunya tentang keluarga pertanda kita adalah orang yang bisa diandalkan saat curhat.

Mungkin sampai sekarang kita masih dengan kondisi introvert kita. Entah itu sebuah anugrah atau justru musibah. Hanya kita sendiri yang bisa mengartikan. Dengan kondisi sering berbicara sendiri dan berpikir seharunsya kita bisa mendapatkan pencerahan untuk diri kita sendiri.  

Kamis, 19 Desember 2013

Suka Duka Orang Introvert

Dipergaulan sehari-hari saya cenderung diam. Sekeliling saya banyak yang beranggapan saya aneh atau pembicaraan saya sudah dimengerti mereka. Saya saat berbicara cenderung frontal dan blak-blakan. Gak peduli tentang etika berbicara, sehingga saya sering dicibir banyak orang. Saya juga gak tahan dikeramaian dalam waktu lama. Awalnya saya berpikiran apa yang salah dengan diri saya? Apa yang salah dengan orang-orang disekitar saya? Akhirnya saya menemukan bahwa saya adalah orang Introvert. Jika kalian pernah merasakan hal yang pernah saya rasakan, kemungkinan besar kalian juga orang Introvert.

Introvert sendiri adalah kepribadian yang beroriantasi pada 'diri' sendiri. Umumnya orang Introvert untuk memperoleh energi, mereka akan menyendiri untuk waktu tertentu sampai energi mereka pulih. Introvert juga suka berpikir hal-hal yang mendalam, tidak seperti lawan mereka Ekstrovert yang cenderung berpikir hal-hal yang umum dipikirkan banyak orang. Ibarat orang menyelam, orang Ekstrovert menyelam dikedalaman 0-100 meter sedangkan orang Introvert bisa sampai kedalaman 500 m. Karena orang Introvert suka berpikir yang mendalam maka orang Introvert gak suka orang yang ngomong basa-basi. Basa-basi hanya membuang waktu saja, sehingga apa yang kami bicarkan selalu terdengan blak-blakan dan frontal. Jika kalian pikir kami berbicara tanpa berpikir, itu salah. Sebenarnya kami memikirkan apa yang kami ingin bicarakan setelah itu baru kami ungkapkan. Itulah yang membuat kami sering kesulitan dalam PDKT. Kita mulai obrolan, dia udah ilfeel duluan. Padalah obrolannya gak berat-berat amat. 

Orang Introvert sering dibilang anti sosial. Siapa bilang kita anti sosial? Sebenarnya Intorvert punya temen, namuan temen mereka gak sebanyak orang Ekstrovert. Kita paling punya temen dekat 1 atau 2 orang. Walau hanya 1 atau 2 orang saja, kita termasuk pendengar yang baik. Jika diantara kalian punya teman orang introvert. Berbahagialah karena kalian adalah salah satu orang kepercayaan kita. Gak udah takut walau kami cenderung diam tapi cocok buat temen curhat kok.

Saya pernah mengalami kesulitan waktu berorganisasi. Saat berorganisasi kesulitan untuk bekerja dalam kelompok. Terkadang yang sering ngomong itulah yang paling dapet peran atau jabatan. Belum kalau pas diajak diskusi, saya gak bisa apa-apa karena rame dan ditekan terus-menerus. Sampai saya dibilang "Gak bisa diajak mikir." Gak bisa diajak mikir?! Sebenarnya waktu itu saya udah mikirin sesuatu cuma ngomongnya yang gak tau gimana. Karena omonganku rada objektif. Takutnya mereka yang gak ngerti. Makanya aku terima diem sampai diskusi selesai atau lewat temenku untuk ngomongin pemikiranku. Bahkan saya pernah diputusin pacar karena cenderung diam dan gak aktif ngomong. Susah sih hidup jadi orang Introvert, 1 dari 3 orang didunia terdiri dari orang Introvert. Apalagi kita hidup di dunia orang Ekstrovert, karena meraka kaum mayoritas. Terkadang, kebiasaan orang introvert yang menurut kami wajar tapi menurut mereka (Ekstrovert) gak normal dan aneh bagi mereka.

Bagi kalian yang Ekstrovert. Jangan langsung mutusin kesimpulan sendiri kalau belum tau aktivitas orang Introvert. Karena cara Intorvert dan Ekstrovert berbeda jauh. Jangan paksa kami untuk ikut cara kalian. Jika kami lagi pengen sendiri atau menjauh dari keramaian itu karena kami kehabisan energi  untuk berhadapan dengan kalian. Untuk Introvert, biarpun kita minoritas tapi jangan memaksa diri untuk ikut dengan orang Ekstrovert. Karena kita punya cara berpikir mendalam dan bersifat "Memberi pilihan" bukan "Memutuskan" dan dalam pekerjaan kita lebih untung karena gak suka basa-basi. 

Rabu, 29 Agustus 2012

Kehidupan Gamer (Part 3)

Seiring berjalanannya waktu, perkembangan teknologi sudah maju. Dibuktikan dengan beberapa turunan konsol yang ada. Dulu kita mengenal PS 1. Berikutnya ada PS 2, PS 3, Xbox, Xbox 360 bahkan yang sedang digemari anak muda sekarang juga tak kalah menyorot yaitu Game Online. Game dengan basis Network, namun dengan jarak yang tak terbatas sehingga orang-orang bisa bermain dengan orang lain tanpa perlu pindah tempat duduk dan tukeran joystick konsol. 

Namun belakangan ini, masyarakat selalu beranggapan bahwa Orang yang hobi ngegame selalu dianggap negatif. Banyak juga orang tua yang melarang anaknya ngegame dengan bermacam alasan. Padahal para pakar-pakar psikologi dan pemerahati anak tidak ada yang berani menimpulkan sisi positif dari Game. Karena sesuatu ada positif dan negatifnya. Jelas-jelas mereka berbicara seolah-olah gaya bahasanya ilmiah, namun sayang mereka tidak mampu menggali lebih dalam lagi tentang kehidupan gamer. Sebagai gamer, saya merasa hal itu tidak benar. Karena yang dimaksud orang-orang tersebut, bukan gamer konsol melainkan gamer yang biasa main di gamenet/warnet didekat lingkungan mereka. 

Jika kalian "Mantan' pecandu game online(seperti Seal, RF, PB, Ragnarok). Setiap hari, mereka akan menghabiskan waktu dan uang mereka disana, bahkan ada yang rela begadang demi memuaskan kesenangannya. Beberapa hal yang bikin betah main di gamenet sebagi berikut.
  • Tarif yang murah.
Gamenet selalu penuh dan buka full 24 jam. Belum lagi dengan penawaran-penawaran paket yang murah serta mengrogoti hati kita untuk datang dan duduk, itulah yang membuat mereka betah main di gamenet berjam-jam. Sekalian sebelum main bawa bantal sama selimut, karena di game net gak ada bantal.
  • Ruang lingkup yang luas.
Main di gamenet pasti terkoneksi dengan internet yang membuat kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Bahkan kita bisa main bareng mereka. Muter-muter hunting nyari item langka, ngabisin waktu 3 jam baru dapet dikit, kalo dapet langsung dijual atau dipake sendiri. Belum kalo temen kita ada yang jual Weapon, Item dan Pet yang kita butuhkan. Pasti dapet dengan mudah, daripada nyari berhari-hari sampe jenggotan tapi tetap gak ketemu. ujung-ujungnya strees.
  • Menjadi ladang uang
Mungkin ada yang berpikiran kalo ngegame gak nguntingin, justru ada gamer yang sering main malah dapet duit. Kalo udah tau maksudnya ialah "ngejual ID sendiri". Belakangan ini banyak orang yang ngegame dengan niat yang tinggi supaya harga jualnya tinggi. Faktor yang mempengaruhi, kebanyakan adalah banyaknya orang yang males naikin level, pengennya serba instan. 'Ngapain capek-capek main kalo bisa beli ID orang, full equip lagi. Selain ID, juga banyak yang jual Equip, Cash, Item dan Pet. Beginilah kalo sudah cinta dengan hobi, rejeki akan datang dengan sendirinya.
Dari point-point tadi bisa kita simpulkan, bahwa "Yang membikin game mendapat citra miring di mata masyarakat bukan gamenya tetapi tingkah laku gamer yang sudah bertindah di luar batas."

Selasa, 21 Agustus 2012

Antara Pacaran dan Matematika

Gak sengaja saya kepikiran hal ini waktu lagi bengong. Justru kalo lagi bengong suka mikirin hal yang aneh-aneh. Aneh-aneh lho, bukan porno. Umumnya kalo bengong suka bayangin tentang game. terutama game yang sering dimainin. Entah scene, dialog atau adegannya bisa terniang terus di kepala sampe kebawa tidur. Namun yang ini bikin saya bertanya-tanya.

'Apa hubugannya Matematika sama Pacaran?
'Apa coba!'

Kalo dipikir-pikir memang gak ada hubungannya tapi menurut saya ada beberapa kesamaan. Akan saya deskripsikan secara rinci.

  • Bikin galau
Gak salah lagi kalo matematika bikin galau. Gimana nggak! Udah pelajarannya sulit, Susah dimengerti, waktu berjalan lambat dan yang lebih parah kalo gurunya masuk kategori guru 'Killer'. Malem hari pasti gak bisa tidur karena mikirin pelajarannya dan yang bikin amsyong adalah ketika matematika mulai jam 1.
Hali ini juga sama dengan pacaran. berbanding lurus. kalian pacaran pasti juga galau kan! Punya pacar yang bikin strees. Di mall, lagi ada diskon minta ditemenin shopping. Dimulut bilang 'Karena sayang' tapi didalam hati 'Bikin amsyong ni cewek!' apalagi kalo minta dibayarin dan utang diborjo udah numpuk. Disitu kalian cuma punya pilihan "Mau diputusin pacar atau digebukin sama temennya tukang borjo yang diutangin!"
  • Penuh Pengertian
Penuh pengertian. Kalo pacaran penuh pengertian udah biasa tapi kalo matematika darimana? Begini lho. Matematika kan pelajaran bikin galau. Belum lagi yang namanya 'Trigonometri' biarpun cuma Sin, Cos, Tan dan teman-temannya. Tetap aja banyak yang stress, sampai ada yang gak bisa tidur gara-gara besoknya ulangan trigonometri. Letak pengertiannya adalah kalo kita tahu trigonometri dan tau cara memperlakukannya, pasti ngerjain soal jadi gampang. Ibaratnya orang ngupil, dapat upil, terus tinggal sentil(Walau pada kenyataannya udah belajar mati-matian tetap aja hasilnya nol). Sama juga dengan pacaran, kita diminta harus ngertiin pacar kita. Gak peduli dengan kondisi kita sendiri, tetap aja diminta ngertiin(pada kenyataannya, yang banyak nuntut cewek) Mau lagi belajar, lagi nongkrong, lagi ngapain apapun namanya, kalo cewek punya permintaan tapi cowok gak bisa nurutin ujung-ujungnya 'Loe-Gue-End'.
  • Pendekatan
Seperti halnya pacaran. Menurut saya matematika pun ada pendekatannya. Kalo deketin gebetan pastinya harus punya trivia tentang dia dari A sampai Z. Bedanya kalo matematika, pendekatannya udah ada teorinya dan bersifat mutlak. Bayangin aja, trigonometri yang rumusnya cuma sin, cos, tan aja perlu pendekatan khusus biar tau cara jawab soal, mau cara "Terlihat pintar' atau "Terlihat bodo" semuanya bisa. Deketin gebetan pun gak jauh beda, Kalau udah tau Trivia dari si doi atau baca buku '1001 cara menggaet gebetan' tinggal bagaimana cara kita mengembangkan itu agar berkesan menarik dan tak terlupakan oleh dia.